Tampilkan postingan dengan label poligami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poligami. Tampilkan semua postingan
7 Feb 2011
Rekonseptualisasi Poligami Kontemporer
OLEH : CUT ASMAUL HUSNA TR,S.H.,M.Kn
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (An-Nisa : 3)
9 Jan 2011
Poligami adalah Kebutuhan Sosial
Allah telah menciptakan segala sesuatu yang ada di atas bumi ini, termasuk manusia, sesuai dengan kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Tak ada satu pun, di dunia ini, ciptaan Allah yang kontradiksi, berbenturan atau bertentangan. Begitu pula, tak ada benturan maksud perintah yang satu dengan yang lainnya. Apabila Allah memerintahkan sesuatu, pasti perintah tersebut telah disesuaikan dengan hukum alamnya.
Poligami adalah Hak dan Kebutuhan Perempuan
Oleh : Purwanti (Istri Pertama)
Selama ini masyarakat memiliki pandangan, kalau ada perempuan mau jadi istri kedua dikesankan dengan istilah ‘merebut suami orang’. Ada pula yang beranggapan dia sebagai ‘perempuan yang tak laku’. Yang lebih parah lagi, adanya aturan kalau seorang perempuan, terutama pegawai negeri sipil (PNS) mau jadi istri kedua, ketiga atau keempat harus mendapat ijin atasannya. Bahkan dalam PP 45/1990, ditetapkan wanita PNS tidak diperbolehkan sama sekali menjadi istri kedua, ketiga atau keempat. Kalau nekat berarti harus keluar atau dipecat, karena dianggap pelanggaran besar.
31 Des 2010
Poligami dan Isteri Shalihah
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Pak Ustadz, semoga Allah Ta'ala selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.
Apabila istri menolak niat suaminya untuk berpoligami, apakah istri tersebut dikategorikan menolak Sunnah Nabi dan juga tidak termasuk Istri Sholihah? Ada juga yang berpandangan salah satu ciri dari Istri Sholihah adalah mau diajak berpoligami.
Mohon penjelasannya atas hal tersebut. Trima kasih
Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh . . .
Adi
Pak Ustadz, semoga Allah Ta'ala selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.
Apabila istri menolak niat suaminya untuk berpoligami, apakah istri tersebut dikategorikan menolak Sunnah Nabi dan juga tidak termasuk Istri Sholihah? Ada juga yang berpandangan salah satu ciri dari Istri Sholihah adalah mau diajak berpoligami.
Mohon penjelasannya atas hal tersebut. Trima kasih
Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh . . .
Adi
Jawaban
Label:
istri salihah,
menolak poligami,
poligami
Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Suatu hal yang patut disayangkan pada saat ini. Wahyu yang sudah semestinya hamba tunduk untuk mengikutinya, malah ditolak begitu saja. Padahal wahyu adalah ruh, cahaya, dan penopang kehidupan alam semesta. Apa yang terjadi jika wahyu ilahi ini ditolak?!
Wahyu Adalah Ruh
Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Wahyu Adalah Ruh
Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)
Langganan:
Postingan (Atom)